(Source: tonsofphotographyxox, via tonsofphotographyxox)
(Source: tonsofphotographyxox, via tonsofphotographyxox)
Waktu berlalu begitu cepat tanpa aku sempat mengikuti iramanyaMe
Di dalam hatiku takkan pernah hilang bayangan dirimu untuk selamanyaKisah cintaku - Chrisye
Seminggu ini ada perasaan mengganjal dalam hati. Meminta kepastian. Apakah rasa itu hilang, atau bersembunyi. Membuat gundah hingga aku memutuskan untuk pulang. Kemarin, aku menapaki jalan itu sendiri. Jalan yang menuntunku ke sebuah bangunan tua dimana kamu selalu menunggu kedatanganku, dulu. Jalanan itu tak lagi sama. Tak hanya karena tak ada kamu diujung jalan itu, tetapi juga memang jalanan itu sudah diperbaiki untuk beberapa alasan.
Dengan langkah ringan aku berjalan, sembari memutar kenangan kita, lagi. Mencoba mengingat-ingat semua kejadian yang pernah terjadi baik di setapak itu maupun di bangunan yang sedang ku tuju. Bertemu kedua orang tuamu. Dan akhirnya pergi mengunjungimu.
Singkat cerita, aku memasuki kompleks perumahan yang terlihat baru. Bukan baru dalam arti baru, tetapi kondisinya yang diperbaharui. Perumahan yang dulunya ditumbuhi pohon-pohon rimbun, kini terlihat lengang, dan sejujurnya terlihat lebih rapi. Ku susuri jalan hingga ku temukan persinggahanmu. Ya, tempat peristirahatanmu yang terakhir.
Setelah berdoa dan melakukan ritual lain, saat ibumu berdialog dengan salah seorang sahabat kita, aku termenung. Mencoba berdialog denganmu. Dan saat itulah aku berkali-kali menghela nafasku, menahan semua tetes kepedihanku tumpah di depan kedua orang terdekat kita. Aku juga merasakan debaran jantung seperti yang kurasakan dari awal kita berhubungan. Dan aku juga merasakan kehadiranmu disisiku, menatapku sedih, kemudian seakan mengajakku tersenyum.
Akhirnya, aku memantapkan hati. Dirimu memang tak akan pernah terganti. Detak jantung dengan ritme seperti ini memang hanya terprogram untukmu seorang sayang. Maafkan aku. Kamu memang satu-satunya lelaki yang berhasil mengisi ruang hatiku. Terima kasih. :D
Aku diperalat oleh kata ‘sahabat’ !!senin, 12 sept ‘11
Aku akan menceritakan sebuah moment yang terjadi tepat di awal bulan ini, satu juli 2011, dimana kisah kita berakhir,..
Hari ini bulan juli dimulai, dengan sebuah lembar kalender baru bertuliskan JULI dengan angka satu sebagai tanggalnya. Aku memang sudah mempunyai beberapa janji hari itu, mengunjungi dhika, menemui ibu, bertemu yogie yg lebih sering ku panggil igoy, serta ria. Sebenarnya tak ada firasat yang begitu berarti hari itu, tapi aku merasa enggan untuk menginjakkan kakiku keluar rumah. Aku mengulur waktu, padahal aku sudah berjanji akan menemui ibu pukul 9 sedangkan ini sudah pukul 8 lewat 40 menit. Aku mengirimi ibu sebuah pesan singkat, mengubah janji menjadi sore hari. Jam yang tergantung di dinding sudah menunjukkan pukul 13.00, aku sebenarnya masih enggan untuk pergi, tapi apa daya, aku harus tetap pergi, karena si ketua osis yang menjabat tahun ini menunggu aku dan igoy. Pergilah aku, meninggalkan rumah kedua orang tuaku. Jantung ini memang berdetak lebih cepat, kepala ini memang sudah terasa pening saat aku berangkat, tp memang tak ada firasat. Aku tetap melanjutkan perjalanan. Jalanan yang macet membuatku semakin gelisah, aku masih tak sadar akan pertanda itu, aku masih merasa aku baik-baik saja. Perjalanan yang biasanya bisa kutempuh dalam waktu 60 menit, kini menjadi dua kali lipat. Aku maklum, karena kawasan ini memang kawasan yang selalu padat saat liburan sekolah seperti saat ini. Sampai di sekolah, di sebuah kompleks gedung tua yang menyimpan berjuta kisahku bersama teman-temanku, aku sudah disambut ejekan igoy dan ria, aku hanya tersenyum, mengucapkan maaf. Kami bercanda, tertawa, bercerita tentang ini dan itu. Karena mereka berdua belum makan siang, mereka mengajakku untuk makan di sebuah cafe (aku tak tau tempat itu disebut apa, cafe, rumah makan, atau apalah, terserah, yang penting kami bisa makan disana). Hanya ada satu motor, aku memutuskan untuk berjalan kaki bersama ria, sedangkan igoy mengendarai motornya. Sedikit licik, aku tetap tak mau capek walaupun berjalan kaki, akhirnya kutitipkan tasku pada igoy.
Sampai di parkiran cafe itu, aku mulai merasakan perasaan tidak enak, dan itu terbukti dengan tatapan igoy, tatapan mematikan, tapi juga menyedihkan, membuat orang yang melihat pandangan itu akan merasa ngeri. Kemudian ia berkata, bertanya, dengan nada agak tinggi,
“Frisky, dwi kenapa?!!”
“Hah? Emang kenapa?”
“Dwi ih dwi.”
“Apaan sih? Jangan riweuh dulu. Ceritain dulu.”
“Ada sms dwi meninggal.”
“Astagfirullah.”
Dengan tergesa ku lihat telepon genggam milikku. Disana memang ada sebuah pesan masuk dari tiqo, yang juga bertanya hal yang sama, “teh, dwi meninggal?”
Ada perasaan menolak kabar itu, berusaha tetap berpikir jernih, sembari melihat igoy yang sudah kalut, ria juga terlihat mulai terpancing kesedihannya. Aku bingung, hendak mencari informasi yang benar-benar bisa dipercaya. Akhirnya aku menelpon orang-orang terdekat dwi, satu demi satu, saat aku kembali ke tempat igoy dan ria, air mata igoy sudah tak terbendung, aku semakin panik. Dia bilang, “aku barusan telpon ke nomer dwi, dwi ngga ada.” begitu ucapnya disela isak tangis. Aku masih tak percaya, tak ingin percaya. Kemudian ada teman yang berhenti, juga memberitahu kabar yang sama. Aku tetap tak percaya.
Aku mencoba menenangkan igoy, mengajaknya pergi memastikan kabar ini, ke rumah dwi. Aku meminta ria menyusul dan memberitahu yang lain. Kami berangkat, aku sebenarnya khawatir, kondisi igoy sangat memprihatinkan, ia menangis sembari memanggil-manggil nama dwi. Kami melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Dengan dua hp(hpku dan igoy) yang terus berdering menanyakan hal yang sama, aku mencoba tenang. Memang aku belum menangis, karena aku belum percaya. Dengan suara bergetar aku kembali menelpon orang-orang terdekat kami, menanyakan hal tersebut. Motor melaju kencang, semakin dekat jarak kami dengan rumah itu, dalam hati aku berteriak, ini bohong. Tapi teriakan itu terhenti, tercekat saat kami memasuki jalan itu, aku mulai melihat beberapa orang berjalan mengenakan baju muslim. Aku tetap berusaha menenangkan diri, walaupun sebenarnya itu sudah tak mungkin, tubuhku saja sudah gemetaran, menahan isak tangis yang sebentar lagi akan pecah, 50 meter ke depan, aku melihat sebuah rumah mulai dipenuhi orang-orang yang berdatangan. Air mata mulai mengalir, aku mulai terisak, dalam hati aku berdoa, berdoa mati-matian, meminta pada Tuhan, berkata “jangan Tuhan, itu bukan rumahnya, aku harap itu bukan rumahnya”. Sayangnya permintaanku tidak dikabulkan, itu memang rumahnya, dipenuhi orang-orang berpakaian muslim. Aku tak kuasa menahan tangis, aku menangis memanggil namanya, seketika tubuhku melemah, bahkan dalam beberapa detik saja tanganku sudah mendingin, jangan ambil dia Tuhan..
Aku dipapah memasuki wilayah rumah itu, saat memasuki pintu, aku melihat kain putih sudah terbentang di depan mataku, tak kuasa aku menahan tangis, aku kembali dipapah, sepertinya oleh ibu dari Alm. Aku diarahkan masuk dalam kamar yang ternyata kamar alm, disitu igoy sudah menangis. Aku sebenarnya masih tak ingin percaya, tapi semua itu sudah tak bisa disangkal. Aku keluar ruangan, kembali ke teras depan, menangis sembari menelpon yang lain, membenarkan kabar buruk itu. Lagi, aku dipapah ke rumah lain, dan saat itu aku lihat ocha, sepupu dwi. Ia memelukku, memapahku memasuki rumahnya. Aku mulai berpikir tak rasional, apa karena aku dia pergi? Karena dia dekat denganku? Tuhan, tolong jawab aku!
…
16 minggu terlalu cepat TUHAN untuk mengambil satu lagi orang terbaik dalam hidupku. Satu pintaku, bahagiakan mereka berdua Tuhan, tempatkan mereka di tempat terbaik-Mu.. Selamat Jalan Sahabat, Selamat Jalan Dwi Sukma Permadi, Terimakasih telah menemaniku selama ini. Maafkan aku. Berbahagialah di surga bersama Raden Dhika Muhamad Faizal..
Aku akan selalu ada untuk kamu, dhika..
(via ache)
Aku sudah punya deathnote, tapi sayangnya aku tetap tak bisa mengakhiri hidupku hanya dengan membubuhkan namaku didalamnya..Frisky Meisella
Kamu sudah dan akan terus berada di dalam ruang hatiku..Frisky Meisella